Dapatkan Informasi Terkini

Sekolah Islam Terpadu Robbani Ogan Ilir

Menyatukan “Emosi”

Dalam suatu keluarga terkadang tidak semua anak akan merasa akrab dengan orang tuanya, anak-anak lebih suka bermain dan berkomunikasi dengan guru mreka yang juga orang tua nya di sekolah, bukan tanpa sebab, hal ini diakibatkan terlalu sibuknya para orang tua sehingga tidak memperdulikan anaknya, alhasil anak akan mendpatkan kasih sayang di tempat lain.
Prinsip yang di gunakan dan dipegang oleh orang tua pada zaman sekarang adalah “ketika uang ada maka semua terlaksana”. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu, mungkin uang adalah parameter dari tingkat kesejahteraan sebuah keluarga tetapi belum tentu mendapatkan kebahagiaan yang sama. Salah satu contoh konkritnya adalah sekolah.
Pertemuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) adalah salah satu kegiatan yang selalu dilaksanakan oleh Sekolah Islam Terpadu Robbani setiap tahunnya, tujuan dari kegiatan ini adalah agar orang tua mengetahui keadaan anak dan keadaan sekolah agar menjadi impuls bagi orang tua untuk bagaimana berinteraksi dengan anak-anak, selain itu juga membangun kerjasama dan relasi antara guru dan orang tua. Pada satu kesempatan timbul suatu pertanyaan sekaligus tanggapan dari orang tua/ wali murid. “Benar, cara yang anda berikan untuk mengatasi masalah anak sangat bisa diterimas. Tetapi, saya seperti tidak yakin bisa mengaplikasikan apa yang telah anda sarankan penyebabnya adalah karena saya tidak disukai anak, selanjutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka?”.
Jelas ini adalah masalah, bahkan bisa dikategorikan masalah yang serius, karena anak akan tumbuh menjadi orang dewasa kelak, dan apabila anak tidak mengenal dengan baik orang tuanya maka itu aalah kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya. Orang tua yang tidak memahami anaknya akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada perubahan tingkah laku anak yaitu seperti:
•    Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
•    Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal?
•    Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
•    Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh teman-temannya dengan hal-hal negatif yang tidak berguna?
Nah pertanyaan utama, “ Apakah yang anda pikirkan itu benar”
Perlu diketahui oleh para orang tua, hal-hal yang anda kira bahwa anak melakukan hal-hal yang tak berguna adalah bertujuan agar anda mengerti mereka, mereka mencari-cari cara agar dapat diperhatikan, hal inilah yang menunjukan bahwa orang tua harus mengerti dengan baik anaknya, apabila tidak mengerti maka anak akan benar-benar menjadi seseorang yang orang tua pikirkan. “Bagaimana caranya?”
Jawabanya adalah Emosi mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir anak-anak dan remaja. Mereka jauh lebih banyak di dorong oleh perasaan daripada pemikiran mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian.
Mengisi pikiran mereka dengan nasihat positif, dan menjadikan diri kita motivator di depan mereka tidak akan berhasil. Justru akan membuat anak bertambah sebal dengan kelakuan orang tua . Komentar atau nasihat seperti, “Kamu harus giat belajar”, “Jangan buang waktumu dengan bermain terus”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka.
Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasihat yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu, maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita.
Anak–anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman di hatinya.
Emosi anak-anak sangat sensitif dan lembut, sehingga sangat diperlukan pembentukan karakteristik yang baik pada anak dimulai dari sejak dini. Di Sekolah Islam Terpadu Robbani semua guru mengajarkan perilaku-perilaku terpuji agar tak hanya di sekolah pun dirumah mereka bisa mengaplikasikannya kepada orang tua, tak hanya itu Sekolah Islam Terpadu Robbani rutin melakukan kunjungan ke rumah-rumah siswa agar guru dapat mengetahui keadaan dan kondisi anak-anak di rumah, sehingga dapat disesuaikan dan dibentuk ketika berada disekolah. Semua tentang anak adalah sebuah “Emosi” apabila emosi anak bisa dikendalikan sedini mungkin akan menbawa dampak yang optimal, baik untuk lingkungan sekolah, keluarga, maupun lingkungan

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terbaru

Gallery

Tag

Subscribe