Dapatkan Informasi Terkini

Sekolah Islam Terpadu Robbani Ogan Ilir

Hati-Hati dengan Pisau Pemanjaan, Berikut Tips Kasih Sayang yang Tidak Memanjakan Anak.

Penulis : Artha Ganop Arrofi, S.E

Sebagian besar pakar pendidikan sepakat bahwa mendidik buah hati dengan kasih sayang dan kelembutan lebih efektif untuk mendesain anak yang kreatif dibanding mendidik anak dengan kekerasan dan sikap kasar. Asumsi orang tua bahwa sikap tegas yang diiringi dengan hukuman dalam mendidik akan membuahkan kedisiplinan adalah kekeliruan. Sikap disiplin, mandiri dan kreativitas justru akan lebih efektif tersemai jika mendidik anak dengan kasih sayang, kelembutan dan pemberian hadiah kepada anak.

KASIH SAYANG YANG TIDAK MEMANJAKAN


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua pada saat mencurahkan kasih sayang dan memberikan hadiah kepada anak, supaya cara ini tidak berubah menjadi “pisau pemanjaan” yang akan mencabik cabik kemandirian anak.

Pertama, prinsip keseimbangan. Pemberian hadiah haruslah dilakukan sesuai dengan porsinya dan tidak dilakukan terus menerus agar tidak terkesan memanjakan. Menghukum anak saat melakukan suatu kekeliruan juga diperlukan, dengan catatan hukuman itu tidak bersifat menyakiti. Selain itu, pemberian hadiah juga tidak terbatas pada materi saja tetapi bisa juga pemberian hadiah yang bersifat maknawi. Ketika orang tua lebih dominan memberikan hadiah materi saja, niscaya anak akan menjadi pragmatis atau opurtunis. Dia tidak anak melakukan kebaikan jika tidak ada imbalan. Sedangkan prinsip mendidik yang pertama ini berusaha membentuk karakter nothing too lose (berbuat tanpa mengharap imbalan) pada anak.

Kedua, memberikan ciuman. Kecupan atau ciuman memiliki peran yang sangat efektif dalam menggerakan perasaan dan kejiwaan anak. Tindakan ini juga berperan besar dalam menenangkan, kecupan ibarat cahaya benderang yang akan menerangi hati anak, melapangkan dadanya, dan menambah hangatnya interaksi dengan orang disekitarnya. Dan mencium anak merupakan Sunnah Rasullulah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim melalui Aisyah Ra, “telah datang beberapa orang badui menghadap Rasul dan bertanya, “apakah kalian suka mencium anak anak kalian?”, beliau menjawab “Ya”. Kemudian orang badui itu berkata “Demi Allah, kami tidak pernah mencium anak anak kami”. Kemudian Rasulullah saw bersabda “Aku tidak punya daya apa apa, jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu”

Ketiga, memanggil dengan panggilan yang indah. Memberi nama dan memanggil dengan panggilan yang indah merupakan Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dalam sabdanya beliau berkata “sesunggunya di antara hak-hak anak yang menjadi kewajiban orang tuanya adalah memberikan nama yang bagus untuknya dan mendidiknya dengan baik. Kita tidak boleh memanggil anak dengan panggilan yang buruk. Para psikolog berpendapat bahwa ketika memanggil nama anak kita dengan panggilan yang buruk, itu akan terekam dalam memori anak dan berdampak pada kejiwaan anak. Contoh panggilan buruk : hai t*lol, anak nakal!, anak manja! dsb.

Keempat, Membacakan cerita yang mendidik dari Al-Quran dan Kisah para Nabi. Hal ini dilakukan supaya anak mampu mengambil hikmah dari kisah tersebut. Cerita bisa disampaikan dengan cara yang menarik agar anak merasa gembira dengan kisah tersebut. Waktu terbaik untuk bercerita adalah sesuai dengan kejadian yang ada, sebelum tidur dan saat anak memintanya.

Keenam, memaafkan anak ketika ia bersalah. Menggugurkan hukuman bersyarat kebaikan kepada anak merupakan faktor pendorong anak untuk melakukan kebaikan yang disenangi oleh kedua orang tuanya. Misalnya “Ka Rizki, karena hafalan Hadits Kak Rizki lancar, Maka Ayah tidak akan menghukum kakak walaupun tadi malam kakak tidak belajar”.

Keenam, biarkanlah anak bermain. Memberikan ruang bebas bermain anak merupakan bentuk pengembangan kreativitas anak secara alamiah. Bermain memiliki manfaat di antaranya memunculkan bakat dan potensi, pengalaman yang baru, mengetahui sifat baik dan buruk anak serta menambah kecerdasan visual, kinestetik dan audiotorik

Ketujuh, menerima dan menghargai pendapat anak. Tidak cukup hanya dengan mendengarkan pendapat yang disampaikan oleh anak, orang tua juga harus pandai menghargai pendapat anaknya, sehingga menumbuhkan ide cemerlang dan kreativitasnya.

Kedelapan, tidak membanding-bandingkan anak. Kebiasaan Membedakan atau membandingkan anak akan berdampak buruk pada jiwanya. Anak-anak akan menjadi senang bermusuhan dengan orang lain, gemar berkelahi, suka menentang dan memiliki sifat buruk lainnya. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir bahwa ayahnya pernah pergi bersamanya mendatangi Rasulullah saw, kemudian ia berkata kepada beliau “Aku menghadiahkan kepada anakku ini seorang pembantu, bekas pembantu saya”. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu menghadiahkan semua anakmu seperti ini?”. “tidak”, jawabnya. Rasulullah SAW bersabda “Kalau begitu, batalkan”. (HR. Bukhari Muslim)

Kasih sayang ibarat guyuran air segar yang menyuburkan “pohon keluarga” sehingga akan keluar darinya buah hati yang ranum jiwanya, manis akhlaknya dan lezat budi pekertinya. Jangan biarkan buah hati anda kering dan tidak berasa, karena sirnanya kasih sayang orang tua dari kehidupannya.

Selamat Membaca

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terbaru

Gallery

Tag

Subscribe