Dapatkan Informasi Terkini

Sekolah Islam Terpadu Robbani Ogan Ilir

Membekali Jiwa Para Generasi Penerus Dengan Iman

Penulis : Helda Anggraini, S.Pd        

Di era modern yang penuh dengan gemerlap duniawi, membekali jiwa para generasi penerus dengan iman menjadi sebuah kebutuhan yang tak terelakkan. Iman bagaikan kompas yang menuntun mereka di tengah arus globalisasi yang kian deras, membimbing mereka untuk tetap berada di jalan yang lurus dan benar.

Orangtua merupakan madrasah pertama bagi anak karena sejak lahir anak sudah belajar dari hal-hal yang kecil, mulai dari merangkak, berjalan, berlari, makan, bahkan berbicara. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di rumah inilah yang akan membentuk karakter anak. Karakter tersebut akan mirip dengan karakter orangtua, karena orangtua yang sering ditemui. Orangtua memiliki tanggung jawab penuh, tidak hanya bertanggung jawab secara materi saja, namun juga bertanggung jawab mengenai karakter anak, jiwa anak yakni kepercayaannya (agama).

Otak yang cerdas, kemampuan berpikir yang tajam, dan keterampilan yang hebat tidak akan bermanfaat bagi kehidupan, apabila jiwanya lemah. Tidak ada motivasi dan tidak bergairah. Anak yang pintar, namun rusak orientasi hidupnya akan lebih memperihatinkan dibandingkan anak yang biasa-biasa saja. Sebaliknya, ketika dalam diri anak sudah terdapat 4 perkara secara bersamaan, yaitu akidah yang kuat, jiwa yang hidup dan bercahaya, otak yang cemerlang, dan keterampilan yang hebat, orangtua dapat mengharapkan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya di masa depan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga akan bermanfaat bagi orang lain.

Generasi penerus diharapkan memiliki sikap seperti seorang ideolog, karena seorang ideolog memiliki mimpi yang kuat tentang masa depan. Ia sangat yakin dan berkerja dengan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Bukan untuk kepentingan dirinya, tetapi demi keyakinannya dan akidahnya. Seorang ideolog dipenuhi dengan motivasi sehingga kehadirannya dapat menggerakkan orang di sekelilingnya dengan semangatnya yang berapi-api. Ia memiliki arah yang sangat jelas sehingga melenyapkan keraguan bagi orang-orang yang bimbang dan memantapkan orang yang sudah yakin. Seorang ideolog bukan hanya cerdas, namun jiwanya sangat hidup. Untuk mencetak generasi penerus berjiwa ideolog, ada beberapa cara yang perlu dilakukan, yaitu membangun motivasi anak dan meletakkan visi dengan anak.

A. Membangun Motivasi Anak

Motivasi yang besar dapat meningkatkan level energi dan aktifitas kita. Orang-orang yang sangat bersemangat setiap kali melakukan aktifitas dan seperti tidak ada lelahnya, biasanya memiliki motivasi yang besar dan keyakinannya yang kuat. Keyakinan yang kuat menjadi motivator dan motivasi meningkatkan level energinya. Ketika anak memiliki motivasi yang kuat, dengan demikian energinya juga besar untuk belajar. Anak akan tergerak hatinya untuk berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan apa yang menurutnya baik untuk dirinya. Apabila motivasinya kuat, maka usahanya juga akan semakin kuat. Selain itu, motivasi juga memiliki pengaruh pada perhatian. Semakin besar perhatian yang diberikan, anak akan semakin efektif dalam belajar.

Menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an hendaklah dimulai sejak dini. Mengapa demikian? karena pada masa ini adalah proses pembentukan watak. Apabila sedari kecil sudah ditanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, maka insyaAllah benih-benih kecintaan itu akan lebih mengakar dan membekas dalam jiwa anak dan di masa depan akan berpengaruh pada kehidupannya sehari-hari.

Menurut Adhim (2013) terdapat rentang usia anak yang paling efektif untuk membangun motivasi anak, yakni sebagai berikut :

1. Usia 2 – 4 Tahun

Secara sederhana, usia 2-4 tahun adalah masa ketika membangun harga diri anak diperkuat dan mereka mengembangkan kepribadiannya. Penerimaan diri dan kepercayaan diri yang tinggi. Harga diri yang tinggi dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri anak, sehingga membuat dirinya semangat belajar. Hal ini dapat meningkatkan rasa ingin tahu berkembang dan perasaan positif terhadap belajar bertumbuh dengan baik.

2. Usia 4 – 6 Tahun

Pada rentang usia 4-6 tahun, orang tua perlu memberi pengalaman yang jauh lebih bervariasi dan bermanfaat agar minat anak semakin berkembang. Orangtua dan guru TK dapat membangun perasaan positif dan ideal mengenai tokoh atau kegiatan yang mulia. Melalui kegiatan ini, diharapkan minat, motivasi, dan sikap anak akan terbentuk.

3. Usia 6 – 8 Tahun

Untuk anak pada umur 6-8 tahun, orangtua dan guru perlu membangun kesadaran tentang kompetensi pada diri anak. Disaat yang bersamaan, orangtua sudah mulai menanamkan motivasi yang bersifat ideal karena digerakkan oleh keyakinannya terhadap agama. Ini perlu dilakukan secara terencana, sehingga pada usia 8 atau 9 tahun diharapkan anak-anak itu menjadi pelajar yang mandiri karena budaya belajarnya telah terbentuk dan sekaligus memotivasi dengan kuat.

B. Meletakkan Visi Pada Anak

Untuk meletakkan visi pada anak dapat dipelajari dari kisah seorang tokoh yang bernama Dr. Muhammad Iqbal. Ia adalah seorang pemikir besar muslim yang sangat berpengaruh. Apa yang menarik dari Dr. Muhammad Iqbal untuk para orang tua? Visi ayahnya. Jika ibu bertugas menyayangi, melimpahi perhatian yang tulus dan lain sebagainya, maka kita melihat bahwa peran ayah dari orang-orang besar yaitu meletakan visi yang kuat pada diri anaknya. Ada yang bisa dipetik dari ayah Dr. Muhammad Iqbal, ayahnya memberi nasihat “Bacalah Al-Qur’an seakan-akan ia diturunkan untukmu”.

Inilah nasihat yang sangat visioner. Ia mengingatkan hal-hal pokok yang apabila itu hidup dan ada dalam dirinya, maka seluruh pikiran dan tindakannya akan terwarnai dan terarah. Hal yang sama berlaku untuk motivasi, dorongan belajar, nasihat tentang perilaku, dan seterusnya. Kemampuan dalam memberikan nasihat yang tepat untuk mengembangkan kualitas terbaik dalam diri anak, seringkali tidak bergantung pada kecerdasan orangtua. Ada banyak anak yang mempunyai orangtua berprofesi dokter, namun kualitas pengasuhan dan pendidikan keluarga yang didapatkan hanya setingkat dengan keluarga yang lulusan Sekolah Dasar. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya karena orangtua tidak punya visi dalam mengasuh dan mendidik anak.

Pengertian visi sebagai standar ideal keunggulan, maka visi yang kuat akan membangkitkan sense of purpose and direction, yakni kepekaan terhadap tujuan dan arah. Visi dapat membentuk gambaran mental pada diri sehingga mempengaruhi perasaan, pemikiran, sikap, prilaku dan tindakan. Apabila visinya semakin kuat, maka akan semakin meningkatkan kepekaan terhadap tujuan. Sebaliknya, akan semakin cepat juga menangkap apa yang menjauhkan dari tercapainya standar ideal kesempurnaan dan kehebatan. Tetapi harus diingat bahwa cita-cita yang tidak disertai dengan usaha dan tujuan yang jelas, hanya akan menjadi mimpi.

Belajar dari para orang sukses di masa lalu, umumnya yang paling menonjol bukan pada banyaknya fasilitas yang orangtua berikan kepada anak, bukan juga banyaknya keterampilan yang dilatihkan sehingga mereka cakap bekerja, tetapi warisan yang paling berharga bagi anak-anak adalah visi hidup, keyakinan yang kuat, keimanan yang kokoh, sikap hidup yang baik, dan kesediaan untuk memperjuangkan keyakinan(agama). Melalui mendekatkan anak pada Al-Qur’an, orangtua dapat membantu membangun pondasi yang kuat untuk masa depan anak dan membimbing mereka menjadi orang yang berakhlak mulia. Yang terpenting, mari hidupkan Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan sehingga anak-anak dapat melihat contoh nyata dan terinspirasi untuk melaksanakan kebiasaan-kebiasaan yang baik mulai dari rumah.

Dalam mendidik anak diperlukan bekal yaitu membangun motivasi  dan meletakkan visi pada anak. Bukan hanya itu, orang tua juga perlu membekali anak dengan keimanan (ilmu agama) supaya kehidupan generasi penerus akan lebih terarah dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini perlu dipersiapkan, diberikan dan diterapkan oleh orang tua, tanggung jawab ini bukan hanya pada ibu saja tetapi ayah juga, karena ayah dan ibu memiliki perannya masing-masing dalam mendidik anak.

Sumber: Adhim,M.F.2013.Segenggam Iman Anak Kita.Yogyakarta:Pro-U Media.

Editor Artikel : Tutik Wahyuni, S.Si

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.