Dapatkan Informasi Terkini

Sekolah Islam Terpadu Robbani Ogan Ilir

MENGHIDUPKAN MALAM LAILATUL QADR

Penulis : Atika Junie Astuti, S.P

Secara harfiah, lailatul qadr berasal dari kata lailat dan qadr. Lailat artinya malam, qadr artinya mulia, ketentuan dan sempit. Maka lailatul qadr bisa disebut malam yang mulia, malam ketentuan maupun malam yang sempit. Maksud dari malam yang mulia adalah umat islam yang beribadah pada malam tersebut nilai pahalanya lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan. Istilah ini tercantum pada surat Al Qadr ayat ke 3 yang berbunyi “malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan”. Lailatul qadr merupakan malam istimewa yang dianugerahkan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW karena umat Nabi Muhammad SAW memiliki umur yang pendek maka Allah SWT memberikan kesempatan untuk manusia agar dapat beribadah yang nilai pahalanya lebih baik dari pahala beribadah seribu bulan.

Lailtul qadr sebagai malam ketentuan, malam dimana Allah menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Maksudnya, pada malam lailatul qadr Allah SWT menentukan segala ketentuan yang dicatat oleh malaikat, mulai dari urusan yang paling kecil hingga yang paling besar. Malaikat mencatat ketentuan Allah sesuai dengan tugas malaikat. Seperti yang termaktub pada Al Qur’an surat Ad dukhon ayat 4 yang berbunyi “pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.

Lailatul qadr sebagai malam yang sempit karena pada malam tersebut malaikat silih berganti untuk turun ke bumi sehingga bumi sangat sempit dengan kehadiran malaikat. Malaikat selalu membawa kebaikan dan mendorong orang melakukan kebaikan, sehingga orang yang bertemu dengan lailatul qadr maka orang tersebut akan selalu terdorong untuk melakukan kebaikan. Lailatul qadr dapat memberikan kedamaian, maka orang yang bertemu dengan lailatul qadr dapat diuji dengan kebaikan. Jika kebaikannya bertambah maka ia bertemu dengan lailatul qadr, jika ia selalu mencari kedamaian maka ia telah bertemu lailatul qadr. kedamaian dengan dirinya sendiri yaitu orang yang tidak selalu menggerutu, damai dengan makhluk lainnya yaitu tidak mengganggu orang lain, hewan maupun tanaman. Kedamaian tersebut dibawa hingga kemudian hari sehingga orang tersebut dibawa oleh Allah SWT ke sebuah negeri yang disebut negeri Darussalam (negeri yang penuh dengan kedamaian).

Datangnya lailatul qadr tidak dapat diprediksi secara tepat karena begitu mulianya malam ini sehingga tidak terjangkau oleh nalar manusia. Namun, kita sebagi umat ilsma wajib mengimani lailatul qadr.  Menurut ahli tafsir, Prof Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al Qur’an  menjelaskan bahwa semua uraian Al Qur’an yang diawali dengan “wama adra” artinya sesuatu tersebut tidak terjangkau atau hampir tidak terjangkau oleh nalar manusia sesuai dengan surat Al Qadr ayat ayat 2. Walaupun kita tidak bisa memprediksi dengan tepat datangnya lailatul qadr, namun kita bisa mempersiapkan diri dengan memperbaiki ibadah mulai dari awal ramadhan. Memperbaiki ibadah wajib dengan tidak menunda-nunda mengerjakan ibadah di awal waktu maupun mulai melakukan ibadah sunah seperti sholat tarawih, sholat rawatib, sholat dhuha, sholat malam, membaca Al qur’an dan memperbanyak sedekah.

Walau tidak dapat diprediksi, namun terdapat sebuah hadits yang menjelaskan tentang datangnya lailatul qadr. Rasulullah SAW pernah bersabda “Lailatul qadr itu berada pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan ramadhan” (HR Ahmad, Al-Bukhari dan Abu dawud). Hadits tersebut juga diterangkan dari salah satu riwayat dari ubadah bin ash shamit dalam tafsir ibnu katsir. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Lailatul qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan ramadhan”.

Tanda-tanda lailatul qadr bisa ditinjau dari beberapa hadits yang menjelaskannya

  • Hadits Riwayat Muslim no. 762, dari Ubay bin Ka’ab

“Malam  itu adalah malam yang cerah yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru”

  • Hadits Riwayat Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361

“Lailatul qodar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan”

Sebagai umat islam yang menantikan datangnya lailatul qadr, maka sudah sepatutnya kita memperbaiki diri dan memperbaiki kualitas ibadah terutama di bulan ramadhan. Dengan memperbaiki kualitas ibadah maka kapanpun datangnya lailatul qadr kita akan siap menyambutnya.

Amalan yang dikerjakan di malam lailatul qadr, lebih baik daripada seribu bulan yang tidak ada lailatul qadrnya. Maksudnya amalan disini adaklah amalan  khusus. Adapun amalan yang disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW. “Siapa yang menghidupkan malam lailatul qadr, karena iman dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang berlalu” (HR Bukhari No.1901). Yaitu menghidupkan lailatul qadr dengan mengerjakan sholat, baca Al Qur’an, berdzikir dan berdo’a, bukan dengan amalan lain. Maksudnya, orang-orang yang menghidupkan lailatul qadr bukanlah orang-orang yang meninggalkan sholat malam dan membaca Al Qur’an lalu pergi memperbanyak amal lainnya seperti menyambung silaturahmi, memperbanyak sedekah,  berbakti kepada orang tua dan mengobati orang sakit. Hal yang perlu dimaknai dari kalimat ini adalah, malam lailatul qadr tidaklah diraih dengan meninggalkan ibadah wajib atau utama dan mengutamakan ibadah lainnya.

Editor : Tutik Wahyuni, S.Si

Post A Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.